Rumah Makan Hijau v2

November 14, 2008

Melanjutkan ide segar yang telah saya tuangkan dalam tulisan sebelumnya, saya hendak menuangkan ide tambahan terhadap ide tersebut agar semakin segar. Apabila pada tulisan tersebut, rumah makan hijau menekankan pada menu yang hijau dan berbahan utama sayur-sayuran dan buah-buahan, maka pada tulisan yang kedua ini saya ingin menekankan pada isu awareness terhadap global warming.

Seperti kita ketahui bersama global warming adalah isu global dan saya yakin semua orang concern terhadapnya atau paling tidak mengetahui mengenai isu tersebut. Apabila saya boleh mencoba berbicara mengenai isu global tersebut, pada intinya global warming ini terjadi karena gaya hidup manusia yang konsumtif dan membuang sumber daya alam yang ada, karena harga sumberdaya tersebut masih berlimpah dan dijual sangat murah. Ambil saja contoh minyak. Karena harganya murah–walaupun sempat naik harganya dan kemudian turun lagi–masyarakat dunia mengkonsumsi secara besar-besaran untuk kebutuhan mereka. Padahal harga yang mereka dan kita bayarkan untuk setiap liter bensin atau minyak, sebenarnya tidaklah sepadan. Harga yang kita bayarkan hanyalah harga dari perhitungan biaya operasional yang meliputi penambangan, pengolahan dan distribusi. Sementara itu harga sebenarnya pasti jauh lebih besar dari itu. Bayangkan berapa lama proses pembentukan minyak bumi yang memakan waktu jutaan tahun. Hal inilah yang kita semua–seluruh penduduk dunia–tidak sadari dan tidak kita perhitungkan dan menganggapnya zero.

Nah, dari pelajaran mengenai kasus minyak di atas, kita diajarkan untuk menghemat dan menggunakan semua sumber daya sesuai dengan kebutuhan. Jika dipadatkan menjadi satu kata maka intinya adalah efisiensi.

Melalui ide rumah makan hijau ini, saya ingin menuangkan ide untuk menanamkan jiwa efisiensi kepada masyarakat. Dan kita mulai dengan cara kita makan di rumah makan hijau ini.

Rumah Makan Hijau

November 13, 2008

Industri rumah makan adalah industri yang berdiri di atas kebutuhan dasar manusia yaitu makan. Secara logis industri ini adalah industri yang tidak akan pernah mati karena sepanjang hidupnya seorang anak manusia akan selalu mengkonsumsi makanan paling tidak tiga kali dalam satu hari. Apabila kita tilik lebih dalam, Indonesia dengan penduduk 210 juta jiwa dan pengeluaran untuk makan per hari per orang rata-rata adalah Rp. 50.000 (angka pesimistik), maka kurang lebih per hari akan ada 10,5 trilyun rupiah yang dihabiskan orang Indonesia untuk makan per hari.

Menjawab kebutuhan dan peluang tersebutlah persaingan dalam industri ini tidak terelakkan. Banyak sekali jumlah kedai makan, warteg, warung kopi pinggir jalan sampai kafe di hotel berbintang yang memperebutkan targe pasar  sebesar 10,5 trilyun (bahkan mungkin lebih) setiap harinya. Makanan dan minuman yang ditawarkan pun beragam. Terkadang kita sebagai konsumen juga dibuat bingung untuk memilih makanan yang ditawarkan. Karena sangat bingungnya, sampai muncul jasa-jasa kuliner yang memberikan informasi mengenai makanan-makanan yang baik dikonsumsi dengan berbagai pertimbangan.

Secara umum pertimbangan yang diambil manakala kita memilih makanan adalah rasa, harga dan faktor kesehatan. Idealnya 3 hal ini membentuk segitiga trade-off yang saling berinteraksi. Jika rasa makanan semakin enak pastinya harga akan semakin mahal, begitupun jika harga makanan semakin murah, rasa dan kesehatannya patut dipertanyakan. Faktor rasa dan harga adalah faktor yang paling nyata, sementara faktor kesehatan seperti faktor yang kasat mata dan sulit untuk dirasakan. Oleh karena itu faktor ketiga ini sering kali tidak menjadi pertimbangan masyarakat dalam memilih makanan. Industri makanan pun merespon dengan berlomba-lomba menciptakan makanan yang murah namun enak tanpa mempedulikan faktor kesehatan. Hipotesis saya, hal ini pula lah yang menyebabkan munculnya beberapa kasus-kasus makanan yang meresahkan masyarakat Indonesia mulai dari susu balita dengan bakteri, makanan daur ulang, makanan bermelamin, dan berbagai kasus lainnya.

Menanggapi isu ini saya mempunyai ide untuk menciptakan rumah makan yang menjamin standard kesehatan. Karena masyarakat sulit untuk menilai faktor kesehatan untuk makanan, maka masyarakat yang peduli terhadap kesehatan akan memilih makanan yang sudah terjamin kesehatannya. Rumah makan pun tidak menawarkan menu yang neko-neko. Menu utama yang ditawarkan rumah makan ini adalah menu-menu yang sudah terjamin sehat saja. Oleh karena itu menu-menu berbahan dasar sayur-sayuran dan buah-buahan akan menjadi pilihan utama bagi rumah makan ini.

Walaupun banyak orang yang tidak menyukai masakan sayuran karena rasa yang dihasilkan kurang memiliki cita rasa, upaya untuk menawarkan rumah makan hijau ini sebagai alternatif sehat bagi masyarakat harus tetap dilakukan. Badan kesehatan dunia, WHO dan Badan pangan dunia, FAO sudah merekomendasikan kita untuk mengkonsumsi 400 gram sayur dan buah-buahan per hari bagi setiap orang. Penelitian terkait yang dilaksanakan WHO menunjukkan kurangnya konsumsi sayur dan buah-buahan beresiko menyebabkan beberapa penyakit tidak menular. Sebaliknya konsumsi sayur dan buah-buahan yang cukup dapat mengurangi resiko terkena kanker. Informasi lengkap mengenai rekomendasi WHO untuk menkonsumsi sayur dan buah-buahan dapat dilihat lengkap pada situs WHO.

Jadi, masih tidak suka sayur-sayuran?

Radio KRL

November 11, 2008

Bagi orang-orang yang biasa menggunakan jasa KRL menunggu mungkin adalah hal yang sudah biasa. Bagi orang yang baru-baru naik KRL mungkin akan merasa bosan banget karena KRL di Indonesia ini sering terlambat-sama kayak budaya orang-orangnya saat ini, tapi insya Allah saya optimis beberapa tahun lagi berubah. Jangankan yang baru naik KRL, saya sendiri juga terkadang bosan dalam menunggu KRL. Untuk mengisi kebosanan itu banyak cara yang dilakukan seperti membaca buku, makan dengerin ipod bagi yang punya atau ajak ngobrol orang.

Di peron KA terkadang ada pengumuman-pengumuman dari kantor stasiun mengenai kereta yang mau melintas, panggilan untuk petugas yang bernama XYZ, dan lain lain yang cukup membosankan bagi orang yang menunggu krl. Terlintas ide kenapa PT. KAI, tidak sekalian aja bikin radio KRL. Jadi alih-alih cuma memperdengarkan pengumuman-pengumuman yang tidak menghibur, stasiun bisa menyajikan lagu-lagu yang disesuaikan dengan telinga para pengguna KRL sehingga bisa sedikit menghibur para penumpang.

Bayangkan juga seandainya radio itu terintegrasi antar stasiun. “Lagu ini dipersembahkan dari Ujang di Stasiun Manggarai untuk Minah di Cawang, pesannya, Maafkan aku ya sayang…”. Suara-suara sejenis ini mungkin akan terdengar ke telinga para penumpang-penumpang dan membuat mereka bisa sedikit tersenyum dan terhibur. Dan membuat mereka semangat untuk berjibaku dengan desakan penumpang lain di atas kereta. Apalagi kalau di kereta juga diperdengarkan, lebih banyak lagi orang yang bisa terhibur.

Buat PT.KAI sendiri bisa menjadikan ini sebagai sarana iklan. Semua pihak bisa diuntungkan deh.

Jaringan Peminjaman Buku

November 11, 2008

Kalau dipikir-pikir, cukup banyak orang yang suka membaca buku dan mengkoleksi buku. Namun karena sudah selesai dibaca, koleksinya itu menganggur tidak ada orang yang memanfaatkan membaca. Di sisi lain, kebanyakan orang kita juga yang ingin membaca buku pasti harus memiliki buku atau dengan kata lain harus membeli.

Saat ingin membaca buku tertentu, bayangkanlah mungkin ada orang yang sudah membeli buku tersebut dan sudah selesai membacanya dan meletakkan ke dalam tumpukan koleksinya tanpa dimanfaatkan lagi alias nganggur. Haruskah kita membeli lagi. Bukankah seharusnya buku yang nganggur itu. Dengan meminjam buku itu selain kita menghemat uang di kantong. Kita membantu menghemat konsumsi kertas juga toh. Apalagi ada isu-isu global warming belakangan ini. Hal ini dimungkinkan karena orang yang membeli cukup segelintir orang-orang pertama saja.

Hanya masalahnya bagaimana saya mencari orang yang sudah membeli dan sudah membaca habis buku tersebut? Tercetus ide untuk membangun jaringan para pembaca buku yang memungkinkan setiap pembacanya meminjam buku kepada yang lain. Terus apa keuntungannya buat orang yang membeli pertama. Setelah dipikir-pikir dibuat sistem investasi aja terhadap buku itu. Jadi orang-orang pertama yang membeli buku dan menginvestasikan bukunya akan mendapatkan keuntungan-keuntungan berdasarkan jumlah orang-orang yang membaca atau lama orang2 tersebut membaca.

Sholat Aware Gadget

November 11, 2008

Sholat lima waktu dalam satu hari adalah ibadah mahdoh utama kaum muslimin. Dengan berkembangnya zaman dan semakin sibuknya manusia mengurusi berbagai hal, semakin membuat ibadah ini terkadang ternomor duakan. Padahal sangat dianjurkan untuk sholat di awal waktu dan berjamaah.

Ada pengalaman yang miris sebenarnya selama sholat berjamaah di berbagai masjid atau musholla. Terkadang terjadi gadget-hp atau pda dan device lainnya-yang  jamaah gunakan berbunyi saat sedang sholat. Padahal ibadah ini kan ibadah utama yang memerlukan kekhusyukan dan merupakan bentuk ketaqwaan kita kepada sang Pencipta Allah SWT.

Seandainya ada software yang dapat membuat context aware sehingga pada saat-saat sholat berjamaah di awal waktu HP secara otomatis masuk ke dalam status silent. Jadi tidak mengganggu jamaah lain dan juga pemilik hp.